Ternyata, Belajar Jadi Pawang Hujan Tidak Mudah

Surabaya (infosurabaya.id) – Pawang hujan bisa dikatakan profesi yang erat kaitannya dengan klenik dan kepercayaan masyarakat kita. Meski kini zaman semakin milenial dengan berkembang pesatnya digital, dan orang-orangnya makin rasional,  jasa pawang hujan ini masih banyak dicari.

Biasanya, jasa mereka dibutuhkan saat ada acara hajatan besar, seperti pernikahan, khitanan serta  upacara lain.

Jangan dikira kliennya hanya orang Jawa. Bahkan, salah satu pawang hujan senior di Surabaya, Bu Jamal, kerap mendapatkan orderan dari etnis Tionghoa untuk menangkal hujan ketika mereka memiliki acara.

Di kediamannya di kawasan Karanggayam, istri  mendiang pawang hujan Persebaya Mbah Jamal  itu menceritakan lika-likunya menjadi pawang hujan selama delapan belas tahun terakhir.

Adalah Kebon Agung, Malang, lokasi tempat Jamal dan istrinya ketika muda dulu belajar menjadi pawang hujan. Setelah menikah, pasangan ini sepakat untuk mempelajari ilmu ini. Maka selama dua tahun, setiap malam minggu, pasangan ini akan pergi ke Malang seharian untuk berguru kepada gurunya.

Di sana, tak hanya Jamal dan istrinya saja yang berguru. Namun banyak orang-orang dengan tujuan masing-masing juga datang. Di pendopo, seorang yang mereka panggil Mbah duduk di antara orang-orang dengan segala keperluan ini berguru. Terjaga dari malam minggu hingga shubuh untuk mendapatkan ilmu dari gurunya. “Selain pawang hujan, dulu banyak sekali angkatan. Mereka berdoa agar naik pangkat, supaya naik kerjaan (jabatan), naik gaji,” katanya.

Setelah mendapatkan ilmu itu, pasangan Jamal ini kemudian membuka jasa pawang hujan bersama. Jika Jamal berdoa di lokasi hajatan, maka istrinya akan membantu doa dari rumah. Istrinya mengirimkan doa dari rumahnya.  Namun, setelah kepergian Jamal di tahun 2000, tugas menjadi pawang hujan diteruskan oleh Bu Jamal.

Baca Juga  Mengenal Profesi Pawang Hujan, Sebulan Bisa Raup 50 Juta

Bu Jamal mengaku, ilmu menjadi pawang hujan bisa diturunkan asalkan yang memberi dan yang diberi sama –sama legowo. Untuk menyalurkannya pun tak sembarangan, butuh puasa selama 40 hari nonstop.  Namun pada Mbah Jamal ini, ilmu ini tidak ia dapatkan dengan suaminya. Pun nanti, ketika ia ingin, ilmu ini bisa ia turunkan ke anak-cucunya jika mereka mau. “ Sampai saat ini belum ada kepikiran. Toh cucu, yang biasa ngantar saya pas jadi pawang juga masih SMA. Nanti ganggu sekolahnya,” urai perempuan yang masih terlihat cantik di usianya yang sudah sepuh itu.

Mungkin banyak yang bertanya-tanya, bagaimana prosesi pawang hujan ini berdoa untuk menunda atau menyingkirkan hujan. Saat ditanya prosesinya dan bacaan apa yang dibaca, Mbah Jamal ini enggan mengungkapkan. Ia hanya mengaku, selama mendoakan suatu tempat agar tidak hujan, ia selalu mencari tempat sepi di luar ruangan yang tidak terlihat orang. Ia pun mulai berdoa dengan mantra berbahasa Jawa,  memohon agar tidak hujan selama acara berlangsung.

Ia mengaku, jika energi yang dipunya tidak cukup untuk meminta, ia akan meminta bantuan kepada prewangannya untuk membantunya berdoa. “Intinya, nyuwun pada yang Kuasa, dengan sungguh-sungguh, tidak main-main,” paparnya.

Mbah Jamal ini juga mengaku, tak butuh tirakat maupun sesajen khusus yang perlu dipersiapkan selama ia berdoa. Ia hanya akan duduk berdoa saja. Jika melihat awan sedang mendung, ia akan berdoa dengan lebih keras. Sejak tahun 2017 lalu, Mbah Jamal dibantu oleh cucunya, Nanda, saat bertugas menjadi pawang hujan. Selain menjadi teman, cucunya inilah yang bertugas untuk memantau awan.  “Gak perlu kembang tujuh rupa atau sesajen. Itu terserah yang punya hajat saja, saya tidak meminta. Karena intinya juga doa sungguh-sungguh, dan sebelum acara itu saya harus puasa selama lima hari berturut-turut,” katanya lagi.

Baca Juga  Seminggu Ke Depan, Hujan Deras Diprediksi Landa Jawa Timur

Jasa pawang hujan tidak hanya digunakan oleh suku Jawa. Bahkan, nenek berusia delapan puluh tahun ini mengaku, beberapa tahun terakhir, kliennya lebih banyak etnis Tionghoa ketimbang Jawa. Bahkan, kerap, Mbah Jamal diundang hingga ke luar Surabaya, seperti Pacet dan Gresik. “Mau Natal dan Tahun Baru seperti ini pasti ramai orang yang mengundang. Yang sering pasti di Graha Family sana,” ungkapnya.

Ia selalu memiliki satu permintaan, ke mana pun permintaan menjadi pawang hujan, pihak penyelenggara acara harus mengantar dan menjemputnya ke rumah.  Tarif yang ia patok adalah sebesar Rp 1,5 juta rupiah sekali jalan. Mbah Jamal ini juga tetap meneruskan usaha suaminya untuk menjadi pawang di Persebaya. Namun untuk itu, ia tidak pernah mematok tarif yang besar. “Karena kami sudah buat rumah  di tanahnya Persebaya, maka kami gak memasang tarif. Sedikasihnya saja,” paparnya.

Mbah Jamal mengaku, selama delapan belas tahun menjadi pawang hujan, ia tak pernah mengalami kesulitan. Semua ia anggap sebagai hiburan dan kegiatan untuk mengisi waktu luangnya. Rasa capek, katanya, pasti ada. Tapi tak pernah ia anggap sebagai beban.dya/wbw

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here