Toko Nam, Riwayatmu Kini

Surabaya (infosurabaya.id) – Toko Nam sebagai bangunan cagar budaya dan memiliki nilai sejarah tinggi, kini tinggal sebuah nama. Penghilangan Toko Nam dalam perjuangan arek-arek Suroboyo melawan penjajah, disesalkan banyak pihak.

Mulai tokoh masyarakat, ahli sejarah dan ahli cagar budaya, tak habis dengan hilangnya salah saty Cagar Budaya Kota Surabaya itu. Ironisnya, bangunan yang berlokasi di Jalan Embong Malang Surabaya itu kini hanya menyisakan pilar eks Toko Nam.

Arif Affandi, mantan Wakil Wali Kota Surabaya yang menjabat sejak 31 Agustus 2005 hingga 31 Agustus 2010 mendampingi Walikota Bambang Dwi Hartono (Bambang DH), mengaku tidak tahu persis kapan Toko Nam mulai dirobohkan. Dia mengatakan, sejak tahun 1995, bangunan Toko Nam sudah tidak ada.

“Saya ini tahun 1995 mulai ke Surabaya. Saat itu saya lihat Toko Nam sudah tidak ada,” katanya singkat. Ia pun menyarankan agar mencari data dan informasi ke Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudparta) Kota Surabaya. “Disbudparta lengkap datanya,” sebut Arif.

Baca Juga  Cagar Budaya Di Surabaya Kurang Perhatian

Di sisi lain, Ketua Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Surabaya Retno Hastijanti menduga pembongkaran bangunan Toko Nam secara bertahap. Menurut Retno, sekitar tahun 2004 – 2005, gedung Toko Nam telah dirobohkan hingga tak berbekas lagi. “Lokasi Toko Nam itu yang sekarang dipakai TP 5. Makanya di depan TP 5 itu ada bangunan yang ditahan pakai besi. Itu pilar depan Toko Nam zaman dulu. Itu sudah dibalut dengan bangunan baru. Tapi di dalamnya katanya ada sisa bangunan Toko Nam,” beber Retno.

Baca Juga  Kawasan Surabaya Utara Akan Jadi Destinasi Wisata Budaya Dan Sejarah

Retno menegaskan Tim Cagar Budaya Surabaya menetapkan Toko Nam sebagai bangunan cagar budaya golongan C dengan skor 49. Karena itu, bangunan Toko Nam tidak dapat dibongkar total, melainkan harus menjalani revitalisasi. Ketentuan tersebut tercantum dalam Peraturan Daerah Kota Surabaya Nomor 5 tahun 2005 tentang Pelestarian Bangunan dan/atau Lingkungan Cagar Budaya.

Dalam bab V pasal 11 tertulis, bangunan cagar budaya golongan C adalah bangunan cagar budaya yang dapat dipugar dengan cara revitalisasi/adaptasi. Bab V pasal 16 menjelaskan ketentuan revitalisasi/adaptasi sebagai berikut, perubahan bangunan dapat dilakukan tetapi harus mempertahankan tampang bangunan utama termasuk warna, detail, dan ornamen bangunan. Sedangkan, warna, detail dan ornamen bangunan yang diubah harus disesuaikan dengan arsitektur bangunan aslinya.rwt/surabayapagi/wbw

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here