Adegan Sinetron Disebut Picu Kasus Bullying

Surabaya (infosurabaya.id) – Sosiolog sekaligus Dosen Sosiologi Universitas  Airlangga (Unair) Surabaya, Bagong Suyanto mengatakan, kasus bullying atau persekusi dipicu dari adegan-adegan sinetron yang menjadi percontohan anak-anak muda.

Adegan genre-genre sinetron dinilainya dapat mempengaruhi cara berpikir anak-anak remaja.

“Bullying memang tren, persekusi bullying. Menurut saya preferensinya adegan sinetron yang kelihatannya menjadi acuan anak muda menyikapi yang tidak sukaan pada orang-orang tertentu,” kata Bagong Suyanto, Selasa (16/7/2019).

Menyoal adegan sinetron, Bagong lantas mengkritik adegan yang dapat menjadi tiruan anak-anak hingga berujung persekusi.

“Mereka kan imitatif, menjadi preferensi melihat dan meniru. Saya kira sinetron kita harus dievaluasi ulang untuk tidak menjadi contoh kemungkinan praktek bullying,” katanya kepada Tribunjatim.com.

Selain itu, dirinya menyayangkan jika berkurangnya komunikasi antar keluarga, orang tua kepada anak-anak mereka terutama kehidupan di Kota Besar seperti Surabaya.

Baca Juga  Cara Pemkot Surabaya Tumbuhkan Kepribadian Anak

“Keluarga sendiri mungkin kelemahannya intensitas dan kualitas interaksi orang tua dan anak berkurang terutama di kota besar. Sementara anak mencari preferensi nilai di lingkungan sekolah, dunia maya dan dipengaruhi budaya populer sinetron,” paparnya kepada Tribunjatim.com.

Berkaca pada kasus pengeroyokan anak-anak yang sempat viral terjadi di Surabaya, Bagong menambahkan para pelaku dan korban yang masih di bawah umur merupakan korban situasi.

“Kalau korban dan pelaku masih di bawah umur, itu korban situasi. Penangannya lebih banyak program melindungi supaya personality anak tidak lebih parah dan menyimpang,” tambah dia.

Pihaknya juga melayangkan kritik, terkait pendidikan anak untuk tidak terus mengejar nilai dan sakralisasi Unas. Melainkan pentingnya pengembangan karakter dan moralitas.

Baca Juga  Lewat Program Ini, Pemkot Surabaya Tekan Putus Sekolah

“Ini persoalan yang rumit kalau pelaku dan korban di bawah umur. Pendidikan kita jangan terjebak sakralisasi Unas, yang dikejar nilai. Moralitas, karakter, budi pekerti tidak dapat tempat,” kata dia.

Surabaya sempat diramaikan adanya video viral pengeroyokan yang dilakukan anak-anak pelajar perempuan di kawasan Dharmahusada Indah Barat.

Kasus tersebut kini ditangani Unit PPA Polrestabes Surabaya bersama BP5A Pemkot Surabaya untuk pendampingan para korban dan pelaku.

Diketahui, terdapat sembilan anak yang terlibat pengeroyokan tersebut. Mereka masih duduk di bangku SD hingga SMA di Surabaya.

Polisi menyebut pemicu pengeroyokan tersebut lantaran saling ejek hingga pemukulan berkali-kali dan bergiliran. Mirisnya, mereka terlihat merekam dan menyemangati adegan tersebut.wah/wbw

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here