Kendaraan Listrik Karya ITS Butuh Bantuan

Surabaya (infosurabaya.id) – Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) RI Soetrisno Bachir menyebutkan kendaraan listrik yang dibuat Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya dapat berkembang asal dibantu oleh pemerintah daerah setempat.

Soetrisno usai menjadi pembicara pada acara “FGD & Business Meeting” di ITS di Surabaya, Senin mengatakan dirinya merasa optimis sepeda motor buatan ITS, bernama Gesits, dapat berkembang pesat jika didukung Pemda setempat karena kendaraan listrik akan menjadi kebutuhan pada masa depan.

“Industri tanpa didukung proteksi itu nonsense, minimal dibantu daerah-daerahnya. Kalau ITS mungkin dibantu Provinsi Jatim atau daerah-daerahnya. Pegawainya, jangan beli lagi nonmotor listrik, belinya dari ITS,” kata Soetrisno.

Baca Juga  ITS Uji Coba Jaringan 5G

Penggunaan kendaraan listrik di lingkungan pemda, lanjut dia, dilakukan sebagai upaya proteksi atau perlindungan agar produksi mesin ini bisa bertahan dan dapat memenuhi skala produksinya.

Menurutnya, industri motor listrik sudah bisa diwujudkan saat ini. Pasalnya, mobil atau motor listrik bisa jadi kebutuhan yang mendesak bagi bangsa Indonesia.

“Ini sudah bisa diwujudkan sekarang, karena itu skala besarnya atau skala yang lebih besar. Sekarang sudah bisa pesan. Motor dulu lah yang bisa kita produksi ini, bagaimana ini dibeli oleh pemerintah daerah kota kabupaten maupun provinsinya,” kata dia.

Jika industri motor dan mobil listrik berkembang di Indonesia, soetrisno optimistis ITS akan menjadi motor utama dalam pengembangannya. Selain itu saat mobil atau motor listrik ini bisa terwujud melalui industri dalam negeri itu kan sangat membanggakan sebagai bangsa Indonesia.

Baca Juga  ITS Minta Tak Dilibatkan Di Aksi Demo Mahasiswa

“Bangsa Indonesia akan terlihat mempunyai kemampuan teknologi lebih tinggi. Kedua dari aspek ekonomi, karena kalau mobil listrik diproduksi di dalam negeri maka itu akan mengurangi masalah lingkungan, jadi lebih bersih,” ujarnya.

“Kemudian masalah impor yang terlalu besar, mobil mobil yang ada itu kebanyakan komponennya impor. Bahan bakarnya impor juga, jadi kita banyak kerugian. Jadi saya yakin mobil atau motor listrik sesuatu yang tak bisa terhindarkan,” kata dia, menambahkan.dya/wbw

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here