Adik Amrozi Sebut Pelaku Penusuk Wiranto Minim Kemampuan

Surabaya (infosurabaya.id) – Menteri Koordinator Polhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto menjadi korban penusukan diduga dilakukan oleh orang terpapar paham radikal-ekstrem di Pandeglang, Banten, pada Kamis, 10 Oktober 2019. Ali Fauzi, mantan teroris yang juga adik dari bomber Bali, Amrozi, menyebut insiden itu memperlihatkan adanya pergeseran doktrin dan pola serangan di kelompok teror.

Menurutnya, aksi terorisme itu terbagi menjadi dua. Pertama, aksi terorisme yang dilakukan mulai tahun 2000 sampai 2010. Dimana pelakunya dominan adalah JI (Jamaah Islamiyah), kemudian sasarannya adalah simpul-simpul Barat, seperti hotel, personal orang asing, dan lain-lain.

Kedua, lanjut Ali Fauzi, aksi teror yang terjadi pada medio 2010 sampai sekarang. Sasarannya bergeser kepada aparatur-aparatur pendukung Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

“Pelakunya didominasi oleh mereka-mereka cikal balal ISIS. Dalam hal ini ada JAD, Jamaah Ansorud Daulah, yang sebelumnya punya nama lain, seperti JAT dan lain-lain,” ujar Ali kepada VIVAnews, Kamis malam.

Terdapat perbedaan mencolok pada aksi-aksi teror dua periode itu. Pada tahun 2000-2010, doktrin yang tertanam dalam pikiran anggota kelompok teror lebih halus. Karena itu sasarannya ialah segala berbau Barat.

“Kelompok lama pemikiran takfirinya itu halus, lebih menggunakan pada takfir ‘aini, takfir individu,” kata Ali Fauzi.

Itu berbeda dengan kelompok teror medio 2010 sampai sekarang. Kelompok baru itu menggunakan paham takfir ‘aam atau pengkafiran menyeluruh. Artinya, kata Ali Fauzi, segala pendukung NKRI adalah kafir dan boleh diserang. Karena itu, sasaran serangan kelompok baru itu ialah aparatur negara, kebanyakan anggota Kepolisian RI.

Baca Juga  Minta Kepalanya Ditemukan, Korban Mutilasi Datangi Mimpi Teman

Nah, kejadian penusukan Menkopolhukam Wiranto menegaskan paham yang kini membenam pada pengikut kelompok baru tersebut, bahwa menurut mereka semua aparat pemerintah adalah kafir. “Dalam hitungan saya, dari tahun 2010 sampai 2019, ada lebih dari 90 anggota Polri yang diserang oleh kelompok ini,” terang mantan instruktur bom JI Wakalah Jatim itu.

Perbedaan lainnya, pola serangan kelompok lama lebih matang dan cenderung kasar dengan bekal kemampuan yang memadai. Praktis lebih banyak menggunakan cara-cara lebih kasar, contohnya bom mobil, bom rompi, yang jumlah korbannya bisa ratusan orang. Belakangan bergeser, serangannya bervariasi. Kadang juga menggunakan bom tapi kecil.

Hal itu berbeda dengan pelaku-pelaku teror medio 2010 sampai sekarang. Mereka, lanjut Ali Fauzi, memiliki semangat jihad yang menggebu-gebu namun minim kemampuan. “Kenapa kemampuan mereka terbatas? Bisa jadi mereka terlebih dahulu terkontaminasi oleh paham-paham jihad dan takfir, yang susah dibendung, sementara mereka belum pernah mendapatkan pelatihan,” katanya.

“Belum pernah belajar bagaimana cara peledakan, cara menembak, yang penting sudah semangat untuk melawan yang menggebu-gebu. Akhirnya, apapun caranya dan seberapapun kemampuannya, tetap melakukan (amaliah) biar pun hanya dengan pisau dan parang yang penting eksistensi mereka ada,” tutur kandidat doktor Universitas Muhammadiyah Malang itu.

Menurut Ali Fauzi, insiden penusukan Wiranto dan penyerangan Markas Kepolisian Sektor Wonokromo, Kota Surabaya, beberapa bulan sebelumnya, tidak menandakan bahwa deradikalisasi gagal.

“Rakyat Indonesia itu ratusan juta, tentu tidak mudah bagi pemerintah untuk melakukan deradikalisasi secara instan. Sebab, orang menjadi radikal itu tidak instan, begitu juga orang jadi moderat itu tidak instan,” ucapnya.

Baca Juga  Pria Asal Malang Dilaporkan Diculik Di Jalan A. Yani Surabaya

Sementara itu, Pengamat terorisme, Al Chaidar meyakini serangan terhadap publik figur seperti yang dialami Menkopolhukam Wiranto tidak akan berhenti. Ia bahkan memprediksi akan ada serangan susulan yang dilancarkan oleh kelompok radikal lainnya.

“Ya saya kira akan ada,” katanya saat dikonfirmasi wartawan pada Kamis 10 Oktober 2019

Perkiraan itu muncul lantaran ada semacam konstestasi di dalam setiap amaliat kelompok teroris.
Jadi ini semacam kontestasi bagi mereka (teroris). Siapa yang melakukan, misalnya apakah ini kelompok afiliasi apakah itu ISIS atau Alqaeda maka Ini akan membuat kelompok lain iri,” ujarnya

Jika kali ini mereka berhasil menyerang Wiranto, maka bukan tidak mungkin sasaran selanjutnya adalah Presiden.

“Ya ini saya memperkirakan setelah ini kaya ada semacam persaingan diantara kelompok mereka (teroris). Sebab yang lain akan berpendapat, ini kelompok ini sudah melakukan (serangan) kok kita belum. Kemudian mereka akan berpendapat, ayo kita targetkan Jokowi dan sebagainya, ada itu,” ujarnya.

Al Chaidar meyakini jika dilihat dari metode yang digunakan saat menyerang Wiranto, pelakunya diperkirakan dari kelompok JAD yang berafiliasi pada kelompok ISIS.

Untuk diketahui peristiwa penusukan itu terjadi ketika Wiranto sedang berada di kawasan Pandeglang, Banten. Kejadian bermula ketika Wiranto yang baru turun dari mobil dinas tiba-tiba dihampiri oleh orang tak dikenal yang langsung menusukan senjata tajam ke arah perutnya.

Akibat kejadian ini, Wiranto pun terpaksa dilarikan ke rumah sakit terdekat. Sedangkan pelakunya telah diamankan polisi dan dalam penyelidikan lebih lanjut.wah/viva/wbw

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here