Setahun Pimpin Jatim, Khofifah-Emil Disebut Miskin Inovasi

Surabaya (infosurabaya.id) – Hari ini, Kamis (13/2/2020), genap setahun Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Wagub Emil Dardak Elestianto memimpin Jatim. Partai Gerindra Jatim pun menurunkan evaluasi kinerja keduanya, dan salah satu yang menjadi sorotan yakni sektor ekonomi.

Dalam evaluasinya, Gerindra memaparkan data Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pertumbuhan ekonomi pada triwulan III tahun 2019 sebesar 5,32 perseb.(y-o-y).

Angka ini disebutnya terendah dalam lima tahun terakhir secara y-o-y. Bahkan dalam perhitungan q-to-q perekonomian Jatim mengalami kontraksi 1,68 persen.

“Saya tak ragu menyebutkan bahwa mandeknya pertumbuhan ekonomi, karena miskinnya inovasi yang dilakukan oleh gubernur dan wakil gubernur,” tegas Sekretaris DPD Partai Gerindra Jatim, Anwar Sadad.

Menurut Sadad, jika kembali pada teori konservatif, pemicu pertumbuhan ekonomi adalah tingginya demanddari luar daerah. Dari perspektif ini, dia mendapati tak ada upaya konkret untuk mempertahankan surplus perdagangan antarprovinsi.

Padahal, selama ini perdagangan antarprovinsi menjadi unggulan. Jatim dari tahun ke tahun menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia bagian timur.

Baca Juga  Pemprov Jatim Serius Perangi Kemiskinan

Pembukaan kantor-kantor perwakilan dagang di beberapa provinsi di Indonesia bagian timur, selama bertahun-tahun telah memberikan sumbangan bagi surplus perdagangan antarprovinsi.

“Rendahnya demand dapat pula disebabkan rendahnya supply. Jatim selama ini menjadi buffer stock komoditas pangan nasional,” ujar politikus yang juga wakil ketua DPRD Jatim itu.

Beberapa komoditas pangan bahkan sangat mengandalkan Jatim, misalnya produksi gula di Jatim sepanjang 2017 memberikan kontribusi 53,33 persen produksi gula nasional, lalu menurun menjadi 51,15 persen di 2018, sesuai dengan data statistik tebu nasional.

Sedangkan pada 2019, menurut data Direktorat Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian yang dikutip Sadad, diperkirakan anjlok menjadi sekitar 43,3 persen saja. “Tentu saja ini warning bagi perekonomian Jatim,” katanya.

Demikian pula dengan produksi gabah, sepanjang 2018 produksi gabah di Jatim menyentuh 10.53 juta ton gabah kering giling, atau setara dengan 18,6 persen produksi nasional.

Baca Juga  Ditargetkan, 2020 Tak Ada Desa Tertinggal Di Jawa Timur

“Bukan bermaksud pesimis, angka ini sulit untuk dilampaui atau disamai pada 2019. Kita belum tahu karena data mutakhir belum dirilis,” ucapnya.

Demikian pula dengan produksi daging. Selama ini, lanjut Sadad, Jatim telah melakukan berbagai cara mempertahankan populasi sapi ternak untuk mengamankan kebutuhan daging.

Berbagai upaya dilakukan, misalnya dengan program ‘sapi berlian’ (sapi beranak lima juta dalam lima tahun), dikonkretkan dengan pelarangan impor daging, pelarangan pemotongan sapi betina, dan lain-lain.

Menurut Sadad, data statistik menunjukkan, bahwa dalam setahun terakhir populasi sapi di Jatim makin menjauh dari angka lima juta ekor.

Sadad berharap, memasuki tahun kedua kepemimpinan Khofifah-Emil, agar lebih fokus memaparkan visi besar ke dalam unit operasional dengan target capaian yang terukur.

“Jatim harus menjadi provinsi terunggul dibandingkan provinsi-provinsi lain,” harapnya.wah/wbw

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here