Surabaya (infosurabaya.id) – Pandemi virus corona membuat masyarakat harus tetap tinggal di rumah untuk memutus mata rantai penularan. Hal tersebut tentu saja menyulitkan bagi mahasiswa semester akhir yang tengah melakukan penelitian untuk menyusun skripsi. Atas dasar itu, Universitas Negeri Surabaya (Unesa) memutuskan untuk meniadakan skripsi sebagai syarat kelulusan mahasiswa di semester genap 2020.

Rektor Unesa Prof. Dr. H.Nurhasan M.Kes. mengatakan, pihaknya sudah melakukan rapat pembahasan skripsi bersama para petinggi kampus. Sejak adanya imbauan physical distancing dan penggantian kuliah menjadi metode daring, mahasiswa yang sedang mengerjakan skripsi mengaku kesulitan dalam mengambil data penelitian.

“Kita diskusi itu lama untuk menentukan agar membantu mahasiswa terkait persoalan perkuliahan daring, kemudian terakhir menginjak pada persoalan skripsi,” ujar Nurhasan.

Akhirnya sebagai solusi, syarat kelulusan berupa skripsi pun ditiadakan. Sebagai gantinya, mahasiswa hanya perlu membuat artikel ilmiah dengan batas minimal tertentu. Untuk mendapatkan data penelitian pun mahasiswa diperbolehkan menggunakan data sekunder atau data dari penelitian sebelumnya.

Baca Juga  Nakes Di Surabaya Pastikan Vaksin Tak Ada Efek Samping

“Artinya gak perlu banyak-banyak. Gak perlu turun lapangan, kajian perpustakaan saja, sesuai dengan kompetensi dan minatnya. Mungkin hanya sekitar 10-15 lembar,” lanjutnya.

Selain dikarenakan kondisi pengambilan data yang sulit di tengah pandemi virus corona, Nurhasan juga mempertimbangkan kondisi psikologis mahasiswa. Menurutnya, dengan mempermudah skripsi mahasiswa maka dapat mengurangi beban psikologi selama physical distancing.

“Bagaimana supaya tidak membani mahasiswa, bagaimana kalau mahasiswa itu terbebani, maka akan terjadi stres. Jika terhadi stres maka akan mengganggu imunnya. Sampai saya ilustrasi seperti itu pada rapat itu,” ungkapnya.

Baca Juga  Tunggakan Denda Pelanggar Prokes Selama PPKM Di Surabaya Hingga 154 Juta

Artikel ilmiah ini pun nantinya tidak perlu melalui proses sidang seperti ujian skripsi. Mahasiswa hanya perlu mengumpulkan kepada dosen pembimbing yang nantinya akan diverifikasi oleh tim dosen di masing-masing jurusan.

“Skripsi itu tidak perlu diuji. Atau pengganti skripsi itu tidak perlu diuji. Semacam laporan akhir. Kemudian disepakati penggantian skripsi itu jadi artikel ilmiah,” jelasnya.

Namun apabila mahasiswa yang sudah terlanjur mengerjakan skripsi hingga hampir selesai, Nurhasan mengatakan bahwa proses persidangan tetap diperbolehkan. Tapi tentu saja sidang dilakukan dengan metode daring.

Nurhasan mengatakan bahwa kebijakan ini masih berlaku hanya untuk semester genap 2020. Namun jika masa kedaruratan virus corona terus berlanjut utamanya di Jawa Timur, kemungkinan penggantian skripsi dengan artikel ilmiah tersebut juga akan diperpanjang.dya/wbw

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here