Tenaga Medis Di Surabaya Trauma

Surabaya – Kenekatan satu keluarga di Pegirian, Surabaya, membawa pulang paksa jenazah positif COVID-19 membuat syok para tenaga medis (nakes) saat itu. Bahkan hingga kini sejumlah pegawai dan tenaga medis di rumah sakit mengaku masih trauma atas peristiwa yang terjadi pada Kamis (4/6) itu.

“Kami syok waktu itu. Ya sekuriti kami juga diancam-ancam. Ya kami juga mengerti walau sekuriti kami diancam ya kan tentunya cari selamat,” kata Direktur RS Paru dr Diah Retno, dilansir oleh Detik

“Jadi yang mendapat ancaman petugas sekuriti dan perawat kami yang mau menghalangi (membawa pulang tanpa protokol COVID-19). Akhirnya para perawat kami mundur,” tambahnya.

Tak hanya membawa pulang paksa, Diah mengaku, saat itu juga mereka turut serta membawa bed rumah sakit untuk membawa jenazah. Bed itu memang akhirnya dikembalikan setelah pihak kepolisian menyuruh mengembalikannya.

Baca Juga  Pengelola Pasar Tradisional Di Surabaya Diminta Tidak Panik

“Bed kami juga dibawa. Kami merasa dirugikan karena bagaimanapun bed itu milik kami dan harganya tidak murah. Iya dikembalikan. Itu pun setelah diancam oleh polisi mengembalikan kepada kami,” tutur Diah.

Menurut Diah, atas kejadian itu, sejumlah pegawai dan perawat masih mengalami ketakutan hingga kini. Karena itu, kini pihaknya telah berkoordinasi dengan polisi untuk meminta penjagaan di rumah sakit.

“Menindaklanjuti kejadian-kejadian brutal tersebut, kami lebih meningkatkan koordinasi kesiapan dukungan aparat keamanan, yaitu kami telah sepakat dengan Kapolsek bahwa akan ditempatkan petugas Polsek untuk mengantisipasi kejadian yang tidak diinginkan,” tegasnya.

Baca Juga  Selama PSBB, Bantuan Terus Mengalir Untuk Warga Surabaya

“Jadi kami akan koordinasikan sebelum kejadian pada pasien-pasien dengan kondisi keluarga yang potensi menimbulkan masalah,” tandasnya.

Sebagai informasi, sebelumnya, Satu keluarga asal Pegirian, Surabaya, membawa pulang jenazah positif COVID-19 tanpa protokol kesehatan. Mereka tidak ingin jenazah tersebut dimakamkan dengan protokol COVID-19. Mereka berdalih jenazah perempuan berusia 48 tahun itu tidak positif COVID.

Peristiwa yang terjadi pada Kamis (4/6/2020) ini membuat Lurah Pegirian Menik Hartawanta turun tangan. Bahkan pihak kelurahan mendapat informasi bahwa pihak keluarga berkeras memakamkan jenazah di TPU setempat.

Pihak kelurahan mencoba menemui dan memediasi keluarga tersebut di rumahnya. Setelah diyakinkan, pihak keluarga akhirnya berkenan memakamkan jenazah di pemakaman khusus jenazah COVID-19 yakni di TPU Keputih.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here