Jalur Gaza Surabaya Kini Sepi

Surabaya – Kampus di seputaran Jalan Semolowaru Surabaya tutup. Para pedagang di Jalur Gaza atau Surabaya Food Street terpaksa gulung tikar. Enam bulan lebih pandemi memaksa mereka pulang ke kampung halaman. Hanya beberapa kios saja yang masih buka dan bertahan. Lainnya tak lagi menggantungkan harapan.

Pedagang di Jalur Gaza memang mengandalkan pembeli dari mahasiswa maupun karyawan universitas. Total terdapat sekitar 50 kios pedagang kaki lima (PKL) di kawasan tersebut.

Terdiri dari pedagang penyetan, warung kopi (warkop), penjual bakso, serta aneka menu lain yang ramah di kantong. Namun kini hanya tersisa 6 kios saja, itu pun kadang buka kadang juga tutup.

“Sudah tutup sejak Februari, hampir enam bulan,” terang Ayah salah satu pemilik warkop nomor lima, ia sekaligus koordinator PKL yang masih bertahan, Jumat (21/8/2020) dikutip dari Times Indonesia

Sejak enam bulan terakhir, pandemi memporak-porandakan ekonomi PKL setempat. Bahkan tak ada sumbangan subsidi sama sekali bagi pedagang kecil agar tetap bertahan. Kecuali bantuan langsung tunai (BLT) sejumlah uang tunai yang hanya cukup untuk makan sehari-hari saja.

Kendati buka, pendapatan juga tak bisa diandalkan. Ayah mengaku pendapatan nol. Tak sekedar menurun drastis.

“Cuma cukup buat belanja lagi. Kalau untuk makan sendiri cukup tapi tidak untuk makan sekeluarga,” imbuhnya.

Pemilik warkop yang tutup, memilih membuka usaha di depan rumah mereka masing-masing. Beberapa pulang ke desa. Beberapa lainnya mencari usaha alternatif.

Sebelum pandemi, kawasan Jalur Gaza atau Surabaya Food Street memang tak pernah sepi pengunjung. Biasanya paling lama tutup hanya dua hari saja saat wisuda. Karena gang ini merupakan tembusan ke arah lahan universitas.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here