Medsos Jadi Penyebab Perceraian Tertinggi Kedua

Surabaya – Kasus perceraian ternyata tak melulu disebabkan karena persoalan ekonomi saja, namun juga disebabkan faktor lainnya seperti pengunaan media sosial (medsos). Di Kabupaten Lamongan misalnya. Bahkan, angka perceraian yang disebabkan medsos di Lamongan menduduki peringkat kedua setelah faktor ekonomi.

“Ada dua indikator yang menjadi dasar penyebab pengajuan cerai di Lamongan, pertama karena ekonomi dan media sosial,” kata Humas Pengadilan Agama (PA) Lamongan, Achmad Sofwan, Selasa (10/11/2020).

“Ada juga persoalan ditinggal kerja di luar kota atau luar negeri sehingga menyebabkan salah satunya di antara suami atau istri mengajukan cerai dan ini masuk katagori perceraian karena ekonomi,” katanya.

Saat ini, jumlah kasus perceraian di Lamongan telah mencapai 1.692, terhitung sejak Januari hingga November 2020. Dari 1.692 kasus perceraian yang ditangani itu, 52 persen gugatan cerai yang diajukan sang istri. Sementara 48 permintaan cerai talak yang dilayangkan suami.

Baca Juga  3 Tahun Dikebumikan, Jasad Kiai Di Sampang Tetap Utuh-Wangi

“Ada juga persoalan ditinggal kerja di luar kota atau luar negeri sehingga menyebabkan salah satunya di antara suami atau istri mengajukan cerai dan ini masuk katagori perceraian karena ekonomi,” katanya.

Sedangkan untuk kasus perceraian yang disebabkan medsos, terjadi karena adanya salah satu pasangan yang terlalu berlebihan berselancar di dunia maya. Misalnya beberapa kasus yang terjadi ketika suami pulang kerja ternyata tidak disambut dengan senyum, tapi istri malah asyik bermain ponsel atau sebaliknya.

“Komunitas udara atau pengunaan media sosial yang terlalu berlebihan, sehingga banyak dari mereka yang ingin bercerai karena medsos,” katanya.

Baca Juga  3 Tahun Dikebumikan, Jasad Kiai Di Sampang Tetap Utuh-Wangi

Sebenarnya, lanjut Sofwan, sebelum proses perceraian dimulai, PA Lamongan juga sudah berupaya melakukan mediasi terhadap kedua belah pihak agar mengurungkan niatnya untuk berpisah. Namun, karena keduanya tidak bersepakat untuk membina hubungan kembali, PA pun tidak bisa berbuat banyak.

“Upaya mediasi itu sudah kami lakukan, tapi lagi-lagi buntu dan tidak menghasilkan apa-apa,” ungkapnya.

Selama pandemi COVID-19 yang masih berlangsung, kasus perceraian yang ditangani PA Lamongan tidak ada kenaikan secara signifikan dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya. “Mungkin karena COVID-19 ini, jadi angka perceraian tidak ada kenaikan dari data yang kami himpun angkanya sama seperti tahun lalu,” pungkasnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here