Surabaya – Putra Tokoh PDI Perjuangan almarhum Ir Sutjipto, Jagad Hariseno menyoroti tentang adanya aksi Bela Risma. Hal tersebut Ia nilai menjadi pengalihan isu terhadap sikap sebenarnya yang dilakukan oleh Walikota Surabaya itu.

Seno (sapaan Jagad Hariseno) justru menyoroti beberapa kasus yang terjadi belakangan. Diantaranya, nasib Fahrul Suganda, tenaga Outshorcing yang dipecat lantaran menggunakan rompi bergambar salah satu paslon di Pilwali Surabaya. Padahal, Fahrul merupakan Ketua RW Kapasan yang juga memiliki hak politik sebagai warga Surabaya.

’’Risma, dengan memanfaatkan posisi jabatannya berhasil menyingkirkan siapapun yang tidak mau nurut dan tunduk kepadanya, meskipun itu pegawai kontrak, tetap disingkirkan dengan hati yang dingin,’’ terang Seno saat dikonfirmasi, Sabtu (28/11/2020).

Selain itu, menurut Seno, kini Risma tengah memainkan drama politik. Bersama kekuatan oligarki yang dibangun dengan Eri-Armuji dan Fuad Benardi (putra sulung Risma), mereka dikatakan Seno berpura-pura menjadi korban yang terdzalimi.

Salah satunya menurut Seno adalah lantaran yel-yel yang dinilai sebagai ujaran kebencian. Pun, pihak Banteng Ketaton meluruskan bahwa yel-yel ini merupakan penyemangat dan bukan sebagai bentuk provokasi. ‘’Berpura-pura sebagai korban yang terdzalimi, bahkan menggerakkan segelintir orang yang meneriakkan kata-kata kasar dan kotor, berdemo untuk membela risma yang seolah-olah terdzalimi,’’ terang Seno.

Alumnus Teknik Elektro ITS Surabaya ini juga membongkar dugaan ASN yang disinyalir tidak netral. Menurutnya, hal itu dibuktikan dengan dugaan adanya operasi Satu Spanduk Satu Kelurahan. Yakni, dugaan memerintahkan Lurah dan Camat memasang spanduk Bela Risma.

Baca Juga  KIPP Jatim Bakal Buat Laporan Ke Polisi-PTUN Soal Pilwali Surabaya

Menurut Seno hal tersebut dilakukan agar meyakinkan benar bahwa Risma nampak terdzalimi. ‘’Lebih tampak meyakinkan dan jelas-jelas mengabaikan prinsip netralitas ASN. Pertanyaannya siapa yang mendzalimi Risma?,’’ tanya kakak kandung Wakil Walikota Surabaya, Whisnu Sakti Buana ini.

Khusus soal spanduk ini, Kepala Bakesbangpol Surabaya, Irvan Widyanto sebagai pihak yang disebut mengeluarkan imbauan itu menegaskan bahwa apa yang dilakukannya itu murni tidak ada kaitannya dengan politik atau Pilwali Surabaya. “Ini adalah murni saya pribadi. Dan secara kedinasan, saya adalah anak buah Ibu Wali Kota. Jadi saya juga menangkap keresahan teman-teman semua yang artinya sama perasaannya,” kata Irvan, Jum’at (27/11/2020) malam

Lebih lanjut, Seno tetap menyerukan agar barisan-barisan yang masih setia kepada PDI Perjuangan, dan Ketua Umum Megawati Seokarnoputri tetap solid dalam melawan kekuatan oligarki Risma.

Semua pendapat itu disampaikan melalui rekaman suara Seno berdurasi sekitar 2 menit lebih. Berikut pernyataannya :

Mendengar yel-yel kembali diteriakkan dengan lantang, penuh semangat dan riang gembira, mengingatkan kembali ketika banteng-banteng kota surabaya dengan gigih melawan kekuatan oligarki orde baru dengan mengibarkan panji-panji PDI Perjuangan Kota Surabaya.

Risma, yang memanfaatkan posisi jabatannya berhasil menyingkirkan siapapun yang tidak mau nurut dan tunduk kepadanya, meskipun itu pegawai kontrak, tetap disingkirkan dengan hati yang dingin, bahkan ada ASN yang di non job karena di duga tidak mau menurut kepentingan Risma.

Risma bersama Eri, Armuji dan Fuad putra risma, yang tengah membangun kekuatan oligarki politik untuk menguasai PDI Perjuangan Kota Surabaya, sekarang memainkan drama politik ala drama korea,
berpura-pura menjadi korban yang terdzalimi, bahkan menggerakkan segelintir orang yang meneriakkan kata-kata kasar dan kotor, berdemo untuk membela risma yang seolah-olah terdzalimi.

Risma juga memerintahkan lurah-lurah, camat-camat untuk ikut memasang spanduk Bela Risma, agar Risma terdzalimi lebih tampak meyakinkan dan jelas-jelas mengabaikan prinsip netralitas ASN.

Siapa yang mendzalimi risma?
Apakah pegawai kontrak yang dipecat Risma, itu yang mendzalimi Risma?
Apakah ASN yang dimaki-maki dengan kata-kata kasar dan merendahkan, dan yang di non-job, itu yang mendzalimi Risma?
Apakah aparat pemerintah Kota Surabaya yang diperintah memasang baliho Bela Risma, dengan mengabaikan netralitas ASN, itu yang mendzalimi Risma?
Apakah Whisnu Sakti Buana yang sudah diperlakukan dengan tidak manusiawi, itu yang mendzalimi Risma?

Saya, Jagad Hariseno, anggota partai PDI Perjuangan Kota Surabaya kembali mengajak sudara-saudara, kawan-kawan seperjuangan yang masih setia kepada sejarah perjuangan partai PDI Perjuangan Kota Surabaya, untuk merapatkan barisan, jangan terpedaya oleh tipu muslihat yang keji dan hitam. Jangan anggap enteng Risma. Bahu-membahu kita tabuh genderang perang lawan kembali oligarki politik, oligarki Risma.

Lawan Risma, lawan Eri-Armuji.
Karena kekalahan Risma, kekalahan Eri-Armuji, adalah kemenangan PDI Perjuangan, kemenangan Ibu Megawati Sukarnoputri, kemenangan sejarah perjuangan PDI Perjuangan Kota Surabaya.

MERDEKA!!!

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here