Surabaya – Harap-harap cemas masih menyelimuti berbagai pihak terkait rencana vaksinasi Corona (Covid-19), tak terkecuali Guru Besar Biologi Molekular Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Prof Dr Chairul Anwar Nidom drh MS.

Bahkan ketua Tim Riset Corona & Formula Vaksin Professor Nidom Foundation (PNF) itu mengaku kaget, saat vaksin Covid-19 tiba-tiba hendak diterapkan massal di Indonesia.

Apakah vaksin Covid-19 berbahaya? “Semua vaksin berbahaya kalau pelaksanaanya tidak hati-hati,” katanya.

Apalagi  vaksin dan virus Covid-19  merupakan fenomena baru. “Belum ada kejadian sebelumnya, minimal penggunaan vaksinasi sebelumnya,” tandas profesor yang interest di bidang biologi molekular virus, vaksinologi, biosafety and biosecurity, dan bioinformatika itu.

Dia membandingkan saat wabah SARS (Severe Acute Respiratory Syndrome) atau MERS-Cov (Middle East Respiratory Syndrome Coronavirus) yang tidak ada vaksinasi, padahal struktur virus Covid-19 mirip dengan keduanya.

Baca Juga  Marak Hoaks, Plt Wali Kota Surabaya Pastikan Vaksin Sinovac Aman-Halal

“Kok ini ujug-ujug mau diterapkan massal. Jika berhasil syukur alhamdulillah, tapi jika sebaliknya, siapa yang bertanggung jawab?” kata profesor yang juga ketua/peneliti Avian Influenza Research Center (AIRC) Unair tersebut.

Karena itu, menurut Prof Nidom, diperlukan keterbukaan dan kejujuran dalam memberikan informasi kepada masyarakat, terutama kalangan saintis.

“Kalau memang perlu waktu, sebaiknya pelaksanaannya ditunda. Toh pengendalian Covid-19 dengan 3M (Memakai masker, Menjaga jarak, dan Mencuci tangan) cukup efektif, asal semua lapisan masyarakat disiplin menerapkan,” ucapnya.

Kalau saat ini jumlah kasus meningkat, sebut Prof Nidom, hal itu dampak liburan akhir tahun dan Pilkada serentak 2020. Merujuk data Satgas Covid-19 hingga 4 Januari 2021, terdapat penambahan kasus positif di Jatim sebanyak 709. Dengan demikian jumlah kasus positif mencapai 87.070.

Baca Juga  2.301 Nakes Di Surabaya Sudah Divaksin

Dari jumlah itu, 75.967 orang (86,10 persen) dinyatakan sembuh, 6.038 orang (6,93 persen) dirawat, dan 6.065 kasus (6,97 persen) meninggal dunia.

Hingga kini juga terdapat delapan daerah yang masih menyandang status zona merah atau risiko tinggi penularan Covid-19 di Jatim, yakni Tulungagung, Bojonegoro, Tuban, Kota Malang, Lumajang, Kota Blitar, Mojokerto, dan Kota Madiun.

Sementara terkait Vaksin Sinovac yang akan dipakai untuk vaksinasi, Senin (4/1/2021) kemarin sudah tiba di kantor Dinas Kesehatan Jatim, Surabaya. Total untuk tahap awal ini yang diterima Jatim sebanyak 77.760 vaksin.

Vaksin produksi PT Biofarma Bandung itu dikirim melalui jalur darat malam harinya sekitar pukul 20.00 WIB. Menurut data pengiriman, tiap unit vaksin tertulis seharga Rp 211.282 dengan jumlah keseluruhan Rp 16,4 miliar.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here