Surabaya – RSI Jemursari hari ini menguji profil alat i-nose c-19, yang merupakan alat tes pendeteksi COVID-19 dari keringat ketiak buatan guru besar Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Prof Drs Ec Ir Riyanarto. Pengujian alat ini untuk mengejar satu akurasi yang benar antara i-nose dengan PCR.

“Kami mengejar satu akurasi dengan prinsip yang benar dibagi total sampel. Kalau sampel 100 yang bener siapa. Maksudnya benar dibandingkan hasil PCR. Misalnya PCR positif, i-nose positif. PCR negatif, i-nose negatif. Kalau PCR negatif, i-nose positif maka i-nose yang salah. Kalah, dia (i-nose) yang salah,” ungkap Riyan setelah menyerahkan 4 alat i-nose ke RS Islam, Senin (22/2/2021).

Riyan mengungkapkan, adanya alat i-nose di RS memang untuk dilakukannya uji profile, dimana pihaknya membutuhkan 600 data untuk menguji. Setelah uji profile selesai, maka dilanjutkan uji diagnosis 2.000-2.500 data. Kemudian, jika uji diagnosis lolos maka bisa izin edar dan diproduksi.

Baca Juga  Pakar Statistik ITS Kresnayana Yahya Meninggal Dunia

“Untuk bisa diproduksi masaal, ini sedang uji profile, setelah selesai lalu uji diagnosis. Setelah uji diagnosis mencapai akurasi sekitar 93% maka bisa mengajukan izin edar di Kemenkes. Insyaallah dengan bantuan banyak RS bisa, mudah-mudahan September bisa digunakan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, jika penelitiannya ini bukan hanya meneliti dan mengeluarkan konsep. Melainkan tujuan utamanya dihilirkan sampai menjadi produk yang memberikan manfaat untuk masyarakat.

“Alhamdulillah melalui kerja sama ini i-nose ini dibutuhkan untuk situasi pandemi. Ini alat screening murah, cepat dan tidak berbahaya,” kata Riyan.

Kecanggihan dari i-nose c-19 bisa dilihat dari cara kerjanya dengan memanfaatkan artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan untuk memproses sampel dari bau keringat ketiak. Bau keringat akan diubah menjadi sinyal listrik, kemudian diklasifikasikan menggunakan AI.

Baca Juga  Dinkes: Belum Ada Laporan Mutasi SARSCoV-2 di Surabaya

Selain itu, terdapat fitur near-field communication (NFC) untuk memudahkan pengisian data yang cukup dengan menempelkan e-KTP pada alat deteksi cepat COVID-19. Penggunaan cloud computing sebagai penyimpan data juga mendukung i-nose c-19 agar dapat terintegrasi dengan publik, pasien, dokter, rumah sakit maupun laboratorium.

“Untuk akurasinya sendiri saat ini akurasinya 91%-1%,” paparnya.

Kendati demikian, untuk sekarang alat i-nose c-19 diguanakan di empat RS di Surabaya. Yakni RSU dr Soetomo, RSI Jemursari, RSI AYani dan RS National Hospital.

“RSI ada dua alat untuk di rawat inap dan nanti ada di depan untuk screening,” pungkas Riyan.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here