Surabaya – Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro di Surabaya, yang telah berjalan semenjak 2 minggu lebih, masih saja ditemukan para pelanggar prokes di kawasan kota. Hal ini terlihat dari denda yang terkumpul dan diterima Pemkot Surabaya dari para pelanggar ini mencapai Rp 1,3 Miliar.

Wakil Sekretaris Satgas Covid-19 Surabaya, Irvan Widyanto membenarkan adanya perolehan denda yang terus bertambah. Seperti bulan lalu saja, denda yang terkumpul total sebanyak Rp 583 juta. Saat ini nilainya melonjak mencapai Rp 1,3 miliar. Sebenarnya, Pemkot Surabaya ini tidak menginginkan adanya denda yang terkumpul hingga menggunung seperti ini.

“Ya memang karena banyaknya warga yang belum mematuhi prokes, dan tingkat dispilinitasnya sudah mengendor,” ungkap Irvan saat dikonfirmasi di Surabaya.

Baca Juga  Dinkes: Belum Ada Laporan Mutasi SARSCoV-2 di Surabaya

Irvan mengungkapkan, pelanggaran paling banyak yang ditemui adalah warga kota yang tidak menggunakan masker sebanyak 7.924 orang. Pada posisi kedua pelanggaran terbanyak, adalah kerumunan warga di tempat umum yang mencapai 1.515 orang.

“Pelanggar ini bukan dari warga saja, tapi juga dari pelaku usaha yang sering abai prokes pada saat PPKM mikro. Contohnya pelanggaran jam operasional maksimal pukul 22.00. Ada 211 pelaku usaha yang melanggar,” ujarnya.

Selain itu, sarana dan prasarana protokol kesehatan juga tak luput dari pengawasan petugas. Seluruh pelaku usaha harus menyediakan tempat cuci tangan. Namun, masih terdapat 67 tempat usaha yang tidak mematuhi regulasi tersebut dan akhirnya mereka dikenai denda. Pelanggaran lainnya juga ditemukan pada kapasitas tempat kuliner seperti restoran, warung dan warkop maksimal diisi 50 persen, namun terdapat 57 tempat yang melanggar.

Baca Juga  Masalah Pasar Turi Disorot Dewan Pertimbangan Presiden

“Untuk seluruh pelanggar perseorangan dikenai denda Rp 150 ribu dan KTP disita. Kalau untuk pelaku usaha, nominal denda yang diterapkan jauh lebih besar. Bergantung pada tingkat usaha itu, mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 25 juta,” kata Irvan.

Sementara itu, Kepala Bagian Humas Pemkot Surabaya Febriadhitya Prajatara mengatakan bahwa sejumlah langkah lain disamping denda agar kondisi Surabaya cepat pulih, yakni terus menggencarkan 3T yang merupakan singkatan dari Tracing, Testing dan Treatment.

“Pekan kemarin kami juga melatih anggota dari kepolisian untuk tracing, untuk juga meningkatkan kapasitas satgas kampung tangguh,” pungkas Febri.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here