Surabaya – Pandemi Covid-19 sudah setahun melanda Indonesia sejak pertama kali diumumkan 2 Maret 2020, dan kini telah mencapai 1,3 juta kasus. Menanggapi hal tersebut, pakar Epidemologi Universitas Airlangga Surabaya Dr Windhu Purnomo menyampaikan itu bukanlah hal yang mengejutkan.

Pasalnya, peningkatan kasus yang terjadi tak lain karena kegagalan menjalankan upaya yang baik menghadapi situasi pandemi ini.

“Persis satu tahun jadi 2 maret 2020 ditemukan pertama kali 2 kasus positif dan sekarang sudah berkembang sudah 1 juta lebih. Padahal 1 juta lebih yang kita dapat ini baru puncak gunung es karena di bawah permukaan masih banyak lagi karena testing dan tracing kita rendah belum mencapai tiga persen dari jumlah penduduk. Kita masih bisa saja menerima ledakan bom waktu dari bawah yang tidak terdeteksi,” kata Windhu.

Dan yang paling menjadi sorotan dalam penanganan Covid-19 adalah penerapan protokol kesehatan di masyarakat, dan juga upaya lemah dari pemerintah untuk melakukan testing dan tracing.

Sedangkan, upaya vaksin yang dilakukan saat ini masih belum memberi jawaban karena sesuai prediksi Kementerian Kesehatan Republik Indonesia herd immunity akan mencapai 70 persen dalam waktu 3,5 tahun. Hal ini tak lain karena Indonesia masih bergantung terhadap negara lain yang telah memproduksi vaksin.

“Keprihatinan saya testing dan tracing kita masih lemah. Hal ini harus jadi perhatian yang betul-betul tidak bisa disingkirkan tentang testing dan tracing. Jumlah testing kita turun tajam, per 1 Maret 2021 testing kita terendah dalam empat bulan terakhir. Padahal, target WHO untuk Indonesia 39 ribu sedangkan kita hanya 17 ribu per hari kurang dari separuh dari target minimum, ungkap Windhu.

Baca Juga  Hampir 700 Ribu Warga Surabaya Telah Jalani Vaksinasi

Ketika tracing dan testing jelek, kata dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unair itu, maka banyak kasus yang mungkin tanpa gejala tidak ditemukan dan tetap berkeliaran. Ketika tidak menggunakan protokol kesehatan yang baik virus bisa menular dan menambah jumlah kasus positif yang tak terungkap.

Ia menjelaskan, jeleknya sistem tracing di Indonesia yakni minimnya pelacakan. Artinya dari satu kasus yang ditemukan idealnya melacak 20-25 kontak erat, sedangkan Indonesia hanya 10 orang bahkan tidak sampai.

“Kadang gak ditracing faktor kelelahan petugas, kemudian faktor penolakan dari yang mau ditracing. Sekarang kita hanya berhenti di yang tertular saja, andai tracing naik pasti kasus yang terungkap bisa banyak,” jelasnya.

Selain masalah testing dan tracing, Windhu mengatakan yang memperihatinkan lagi adalah kedisiplinan masyarakat akan protokol kesehatan yang jauh dari harapan. Paling banyak yang terjadi adalah melanggar aturan jaga jarak dan penggunaan masker.

Baca Juga  Tips Anti Lapar-Dehidrasi Saat Puasa

“Sekarang disiplin masyarakat makin rendah, dari beberapa survey yang dilakukan teman-teman epidemolog dan Satgas Covid-19 kepatuhan jaga jarak hanya 34 persen, yang pakai masker 51 persen, jauh dibawah harapan 80 persen. Jadi ini ibarat bom waktu bisa meledak dengan kasus yang lebih banyak,” ungkapnya.

Ia menilai, penurunan kedisiplinan masyarakat ini tak lain karena terbuai dengan narasi terkait data kasus harian yang saat ini seolah-olah menurun. Padahal, data tersebut menurutnya belum tentu dibuka semua oleh daerah atau bahkan terlambat masuk ke pusat, sehingga ketika diumumkan kasus harian sedikit, ditambah lagi dengan testing dan tracing yang rendah membuat pengungkapan kasus pun rendah.

Karena itu, Pemerintah diharapkan lebih serius lagi karena 3T dan 3M menjadi strategi yang paling ampuh yang ada sekarang. Sebab, bila menunggu herd immunity terlalu lama apabila terlena kasus bisa bertambah banyak.

Keberhasilan itu sudah dibuktikan oleh India yang sekarang jauh lebih terkendali karena testing dan tracing sudah mencapai 17 persen atau setara 200 jutaan orang dari total 1,4 miliar penduduk. Kemudian Australia, Selandia Baru, Taiwan, bahkan China yang juga terkendali.

“Kalau kondisi kita begini-begini saja, ya pandemi ini gak akan selesai,” pungkasnya.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here