Surabaya – Kepolisian Daerah Jawa Timur telah menetapkan dua tersangka dalam kasus penganiayaan terhadap Nurhadi, jurnalis Tempo di Surabaya. Kepala Bidang Hubungan Masyarakat Polda Jatim Komisaris Besar Gatot Repli Handoko mengatakan, penetapan tersangka berdasarkan hasil gelar perkara. Ia menyebutkan, dua personel polisi yang ditetapkan sebagai tersangka adalah Bripka P dan Brigpol MFS.

“Mereka cukup bukti melakukan tindak pidana menghalangi tugas pers, bersama-sama melakukan kekerasan terhadap orang, penganiayaan, pengancaman dengan kekerasan,” ungkap Gatot saat dikonfirmasi, Senin (10/5/2021).

Gatot mengungkapkan, Bripka P dinilai telah menghalangi kerja jurnalis dengan menganiaya korban di ruang ganti pakaian Gedung Graha Samudra Bumi Moro Surabaya.

“Selain itu, dia juga melakukan penyensoran dengan cara membawa Saudara N dkk ke kamar 801 Hotel Arcadia dan menyuruh Saudara N menelepon redaktur Majalah Tempo dengan maksud meminta redaktur Majalah Tempo supaya menghapus foto Angin Prayitno Aji,” ujarnya.

Adapun Brigpol MFS, lanjutnya, turut berperan menghalangi rencana wawancara yang dilakukan korban terhadap Angin Prayitno Aji. Ia mengklaim, Brigpol MFS juga telah melakukan kekerasan terhadap korban, serta merampas dan merusak ponsel korban.

“Dengan cara melakukan kekerasan (pukulan) atau ancaman kekerasan terhadap korban pada saat di ruang ganti pakaian Gedung GSB, merampas HP dan memaksa password HP untuk dibuka,” kata Gatot.

“Setelah dibaca file-nya, ponsel diserahkan kepada korban. Tapi file dalam keadaan sudah terhapus dan simcard hilang,” kata Gatot.

Dirinya menambahkan, Bripka P dan Brigpol MFS terancam dijerat Pasal 18 Undang-Undang Nomor 40 tentang Pers subsider Pasal 170 KUHP subsider Pasal 351 KUHP subsider Pasal 335 KUHP.

Sementara itu, Koordinator Advokasi Aliansi Anti Kekerasan Terhadap Jurnalis Fatkhul Khoir telah menerima informasi tersebut. Fakhtul menyampaikan bahwa Informasi yang soal keduanya ditetapkan sebagai tersangka telah diterima sejak Jumat lalu. Dia berharap, penyidik terus akan terus melakukan pengembangan dan pemeriksaan terhadap tersangka demi mengungkap pelaku-pelaku lain yang terlibat.

Pasalnya, berdasarkan keterangan dari saksi dan saksi korban, kedua tersangka berkoordinasi melalui telepon dengan seseorang yang dipanggil bapak.

“Waktu penganiayaan, jumlah pelakunya juga tidak hanya dua orang yang sudah ditetapkan sebagai tersangka ini saja,” pungkas Fakhtul.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here