Surabaya – Belasan pelajar yang tergabung dalam Aliansi Pelajar Surabaya melancarkan aksi protes atas sistem zonasi yang dirasa merugikan banyak pelajar di kota pahlawan. Mirza Akmal Putra selaku ketua Aliansi Pelajar Surabaya saat aksi menyatakan tuntutan untuk memberhentikan sistem zonasi, lantaran banyak pelajar tidak bisa masuk sekolah negeri yang diimpikan.

“Udah tiga sampai empat tahun teman-teman pelajar Surabaya, bahkan seluruh Indonesia menerima masalah dan akibat atas dasar pemerataan pendidikan. Kami tidak terima. Kami ingin tahun 2021 ini jadi liang lahat bagi zonasi,” ungkap Mirza saat berorasi di depan gedung negara Grahadi di jalan Gubernur Suryo, Rabu (2/6/2021).

Mirza mengungkapkan, pelajar di Surabaya mengerti bahwa di tiap kecamatan masih ada banyak yang belum memiliki sekolah, atau satu kelurahan memiliki sekolah dengan kapasitas yang menumpuk. Hal ini dinilai memberi efek besar bagi banyak pelajar di Surabaya.

“Hitungan kasar kami saja dapatkan ada tiga ribu pelajar yang tidak lolos masuk negeri. Karena itulah kami meminta kepada pemerintah pusat, Kementrian Pendidikan, Pemprov Jatim dan Pemkot Surabaya untuk bertanggung jawab atas pelajar yang tidak bisa bersekolah,” ujarnya.

Menurutnya, apabila dilihat secara keseluruhan ada empat ribu pelajar yang tidak dapat masuk sekolah yang dituju. Namun, sebagian dari mereka masih bisa bersekolah dengan pilihan sekolah swasta.

“Saya tiap malam ditelfoni sama kawan-kawan pelajar. Mereka sedih, nangis karena nggak bisa masuk ke sekolah impian mereka,” kata Mirza.

Ia mengklaim, tuntutan hari ini diarahkan pada tiga pihak. Pertama yakni Kementrian Pendidikan supaya ada keselarasan antara pembangunan sekolah dan pendidikan, serta menjadikan tahun 2021 sebagai akhir dari zonasi.

“Kedua untuk Pemprov Jatim, kalau masih menaruh perhatian pada teman-teman (pelajar) mohon ditanggapi, seperti tulisan CETAR yang tertulis di gedung Grahadi ini. Uang anda paling tidak bisa membangun satu tembok sekolah. Ketiga, kami minta pada Pemkot Surabaya, Pak Eri dan Pak Armuji untuk segera merealisasi janji-janji kampanye, dan mengulurkan tangan kepada pelajar di Surabaya,” paparnya.

Kendati demikian, Mirza mengaku bahwa aksi hari ini tidak hanya dilakukan di depan gedung Grahadi, namun anggota Aliansi Pelajar Surabaya lainnya juga melakukan aksi dari rumah.

“Udah dari jam 10 tadi, temen-temen lain ada yang melakukan aksi dengan mengangkat tulisan pada secarik kertas. Kami juga akan publikasikan dengan hashtag yang telah tercantum di Instagram Aliansi Pelajar Surabaya,” pungkas Mirza.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here