SURABAYA – Akses antar kota Surabaya dan Sidoarjo kini semakin dipersulit dengan adanya penutupan exit Tol Sidoarjo. Semua kendaraan yang hendak keluar melalui exit Tol Sidoarjo dialihkan ke exit Tol Tanggulangin.

Penutupan ini adalah serangkaian tindakan yang dilakukan demi mengupayakan keketatan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat Jawa-Bali.

Kasat PJR Ditlantas Polda Jatim AKBP Dwi Sumrahadi Rakhmamto menjelaskan bahwa langkah ini diambil demi mencegah penularan, mengantisipasi penumpukan arus kendaraan, serta membatasi mobilitas masyarakat.

Lebih khususnya, pembatasan ini ditujukan untuk warga Sidoarjo yang penyebaran virusnya masih terbilang tinggi. Bahkan, saat ini Kabupaten Sidoarjo tergolong dalam zona hitam.

“Memang untuk membatasi mobilitas masyarakat, karena Sidoarjo di anev masih dalam kondisi hitam,” ujar Dwi pada Senin (12/07/2021).

Antrian panjang pun tak terelakkan terjadi di pintu exit Tol Sidoarjo. Namun polisi menerangkan bahwa hal tersebut hanya dikarenakan antrian tapping dari pengguna tol.

Penutupan ini juga diakui menyulitkan warga Sidoarjo khususnya yang tinggal di daerah tengah kota.

“Rumah saya [tengah kota] Pondok Jati situ, sekarang harus mutar jauh ke Tanggulangin dulu. Awalnya pulang kantor cuma makan waktu 25 menit kalau pakai tol, sekarang bisa sampai 55 menit bahkan lebih kalo macet kayak gini tadi,” ujar Andi, salah satu pengguna tol (12/07/2021).

Andi juga mengatakan bahwa penutupan seperti ini benar membatasi mobilitas namun juga di sisi lain menyulitkan untuk warga yang masih punya kepentingan mendesak, terutama untuk pekerja sektor esensial.

Untuk penutupan jalan exit tol, polisi menggunakan water barrier dan tenda siaga dalam 24 jam penuh sehingga tak bisa dihindari. Hingga saat ini masih belum dipastikan sampai kapan penutupan ini akan dilakukan.

Rencana selanjutnya, selain di exit Tol Sidoarjo, petugas gabungan dari TNI, Polri, dan Dinas Perhubungan akan mengatur perencanaan dan pelaksanaan penutupan pintu tol lainnya.

“Untuk tol yang ditutup di Malang, dari Lawang sampai Pakis, Kedungkandang, Madyopuro, semua dijadikan satu di Singosari,” tutur Dwi Sumrahadi.

Leave A Reply

Please enter your comment!
Please enter your name here